2 Oktober 2025

Source : The Guardian
Dikutip dari Reuterss, pada Rabu (1/10/2025), Jane Abapo seorang petugas informasi pada Kantor Pertahanan Sipil regional, memberikan pernyataan bahwa jumlah korban tewas didasarkan pada data dari kantor bencana Provinsi Cebu sejauh ini sudah mencapai 69 orang.
Dikonfirmasikan oleh salah seorang pejabat lokal lainnya, yang namanya tidak disebutkan, lebih dari 150 orang mengalami luka-luka
Source : AP Photo
Source : AP Photo
Presiden Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr juga menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang mengalami kehilangan orang terkasih. Ia juga meberikan korban keyakinan bahwa semua akan selamat melalui bantuan yang akan disalurkan dengan cepat.
Marcos Jr juga mengatakan bahwa para sekretaris kabinet telah berada di lapangan untuk memberikan arahan untuk operasi bantuan.
Meskipun saat ini Cebu dilanda kerusakan yang diakibatkan gempa, Bandara Internasional Mactan-Cebu merupakan salah satu bandara tersibuk kedua di Filipina, tetap beroprasi dengan normal.
Kota San Remigio yang juga mendapatkan dampak parah gempa, ditetapkan dalam status bencana untuk mempercepat upaya tanggap darurat dan penyaluran bantuan. Alfie Reynes, yang merupakan Wakil Wali Kota San Remigio, meminta bantuan berupa makanan dan air bagi para pengungsi, serta alat berat yang akan digunakan untuk membantu petugas penyelamat melakukan evakuasi.
Baca juga : Bintang Single’s Inferno, Cha Hyun-seung Mengejutkan Publik dengan Membagikan Perjuangan Lawan Kanker Darah
Reynes menuturkaan kepada radio lokal DZMM "Hujan deras dan listirk padam, jadi kami sangat membutuhkan bantuan, terutama di wilayah utara karena terjadi kelangkaan air setelah jalur pasokan rusak akibat gempa bumi,".
Gempa bumi sendiri memang hampir terjadi setiap hari di Filipina, yang dikarenakan negara ini memang terletak di "Cincin Api" Pasifik, busur aktivitas seismik intens yang membentang dari Jepang hingga Asia Tenggara dan melintasi cekungan Pasifik.
Sebagian besar gempang ada yang memang terlalu lemah untuk dirasakan oleh manusia, tetapi bentuk gempa yang kuat dan merusak datang secara acak, dan tanpa adanya teknologi yang tersedia untuk bisa memprediksi kapan dan di mana gempa akan terjadi.
Agnes Mezra, seorang perawat yang sudah berusia 65 tahun, mengujarkan "Rasanya seperti kami semua akan pingsan. Para pembantu remaja saya bersembunyi di bawah meja seperti yang diajarkan di Pramuka,".
Sebelumnya Filipina memang baru saja diterjang tiga badai besar. Sepanjang bulan lalu, negara tersebut juga diterjang Topan Mirasol, Ragasa, dan BualoiBerita Populer